The 2nd ICON 2026 Resmi Digelar di Kampus IBK Nitro Makassar, Bahas Perkembangan Ekonomi dan Sektor Keuangan

The 2nd ICON 2026 Resmi Digelar di Kampus IBK Nitro Makassar, Bahas Perkembangan Ekonomi dan Sektor Keuangan

--

MALUKU.DISWAY.ID - The 2nd International Conference of Nitro Finance and Banking (ICON) 2026 resmi digelar di kampus Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro, Senin (27/4/2026). 

Konferensi internasional yang digelar secara hybrid itu, membahas perkembangan ekonomi dan sektor keuangan di tengah perubahan global.

ICON 2026 menghadirkan akademisi dan praktisi dari berbagai negara. Diskusi difokuskan pada tantangan ekonomi global, transformasi digital di sektor keuangan, serta penguatan sistem perbankan yang dibuka resmi oleh Wakil Rektor IBK Nitro, Dr. Megawaty, S.E., MHRM. 

Dalam sambutannya, Dr. Megawaty menegaskan, ICON 2026 menjadi wadah strategis untuk melahirkan gagasan dan solusi atas dinamika ekonomi global. 

“Kolaborasi lintas negara dan lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas ekonomi saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, terkait tekanan ekonomi global dan urgensi koordinasi kebijakan, Prof. Dr. John Peter Wanner dari Tohoku University memaparkan, bahwa ekonomi global saat ini berada dalam tekanan yang cukup kompleks. 

Ia menyoroti dampak inflasi, kebijakan suku bunga tinggi, serta ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi stabilitas pasar.

Menurutnya, bank sentral di berbagai negara menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi. “Kebijakan moneter yang ketat dinilai memiliki konsekuensi terhadap perlambatan aktivitas ekonomi,” tukasnya.

Prof. John Peter, juga menekankan, bahwa digitalisasi telah mengubah lanskap industri keuangan secara signifikan. “Perkembangan fintech, kecerdasan buatan, dan sistem pembayaran digital mendorong efisiensi, namun sekaligus meningkatkan kompleksitas pengawasan,” jelasnya. 

Dirinya menilai, koordinasi kebijakan antarnegara semakin penting karena risiko di satu negara dapat dengan cepat berdampak pada negara lain.

Tempat yang sama, Prof. Marsuki, DEA, Ph.D dari Universitas Hasanuddin, menyoroti kondisi ekonomi Indonesia, khususnya kawasan timur. Menurutnya, masih terdapat kesenjangan dalam akses layanan keuangan dan literasi masyarakat.

“Peningkatan literasi keuangan menjadi kunci dalam mendorong inklusi keuangan. Pentingnya riset yang relevan agar dapat mendukung kebijakan ekonomi yang tepat sasaran,” tegasnya. 

Ia menambahkan, bahwa peran perguruan tinggi strategis dalam mencetak SDM yang mampu beradaptasi dengan perubahan sektor keuangan di era digital.

Dari sisi otoritas moneter, Ricky Satria dari Bank Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan menjelaskan, stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga meski menghadapi tekanan global. 

Sumber: