Soroti Pencalonan Sekkot Ambon, Akademisi: Harus Transparan dan Hindari Titipan

Soroti Pencalonan Sekkot Ambon, Akademisi: Harus Transparan dan Hindari Titipan

Sosen FISIP Unpatti Ambon, Dr. Muhtar S.Sos., MA.--

MALUKU.DISWAY.ID – Proses Seleksi Terbuka Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon yang menyisahkan empat nama di akhir pendaftaran pada 17 April 2026, pekan kemarin, menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Beberapa Akademisi meminta, agar proses seleksi tersebut bisa dilakukan secara transparan untuk menghindari politisasi. 

Dimana kandidat yang ditetapkan nantinya sebagai Sekkot Ambon adalah figur yang benar-benar paham tentang tata kelola pemerintahan, dan sejalan dengan kebijakan walikota dalam melaksanakan visi serta program prioritas yang telah ditetapkan. 

“Kalau bisa, hasil seleksi akhir itu, penilaian dari Timsel disampaikan ke publik.  Kemudian, seleksi harus dilakukan secara terbuka, supaya bisa diketahui publik bahwa dari sisi kelayakan masyarakat bisa tahu kalau si A atau si B itu layak atau tidak, itu bisa terpantau. Sehingga tidak ada kesan titipan, tapi betul-betul layak dan profesional berdasarkan kompetensi, pengetahuan dan pengalaman birokrasi. Kemudian bisa membantu walikota secara umum dalam penyelenggaraan pemerintahan,” ungkap Akademisi Unpatti Ambon, Dr. Muhtar S.Sos., MA., saat ditemui media ini, Senin (20/4/2026). 

Dijelaskan, dalam proses seleksi Sekkot, Timsel tidak boleh terkesan bekerja diam-diam atau berdarsarkan kompromi. Melainkan bekerja berdasarkan keyakinan bahwa kandidat yang akan ditetapkan nantinya memiliki kemampuan dalam mengelola birokrasi, serta sejalan dengan walikota. 

“Jangan ada lagi politisasi jabatan struktural. Itu harus dihindari. Dan jangan ada lagi semacam penitipan, artinya jangan sampai yang dilakukan seleksi itu, ternyata hasilnya sudah ada. Jangat sampai seperti itu, harus dihindari. Timsel harus kapabel, profesional sehingga hasilnya bisa disaksikan publik. Karena seleksi yang dilakukan itu harus seleksif dan betul-betul orang yang dipilih itu bisa memahami birokrasi pemerintahan, bukan orang yang memahami tentang politisasi pemerintahan,” pesannya.

Hal senada juga disampaikan Akademisi Unpatti Ambon lainnya, Said Lestaluhu S.Sos., MSi. Ia menilai, selain proses seleksi yang transparan, kandidat yang terpilih harus benar-benar memenuhi syarat dan bisa bekerja sama dengan walikota dalam menjalankan visi serta program kerja. 

Menurutnya, jabatan Sekkot sangat penting selaku pimpinan structural tertinggi di Pemkot Ambon. Bahwa jabatan tersebut, harus diisi oleh orang yang benar-benar paham tentang kondisi dan karakter wilayah kota Ambon, serta memiliki kesamaan pandangan dengan walikota. 

“Maka sudah pasti dalam seleksi itu, ada persyaratan yang harus dilalui. Terutama soal kepangkataran, karir birokrasi yang dianggap sudah memenuhi syarat. Dan saya kira, tinggal melakukan pengusulan ke pemerintah tertingi. Tapi memang dilihat selama ini, jabatan yang sifatnya structural ini, terkadang juga dipolitisasi,” sebutnya. 

Lestaluhu berharap, prosedur pencalonan sekkot saat ini, harus berdasarkan resugulasi kepegawaian yang berlaku. Sehingga tidak terjadi cacat prosedural dalam prsoes seleksi dimaksud. 

“Jadi merit sistem itu harus diutamakan. Jadi istilah, kita memilih orang yang kapabel berdasarkan kompetensi,” tutupnya.

Sekedar tahu, empat nama yang tedaftar pada Seleksi Terbuka Sekkot Ambon, sejak Jumat (17/4/2026) pekan kemarin, diantaranya Pj Sekkot Ambon Robby Sapulette, Kepala DLHP Apris Gazpers, Kadispora Richard Luhukay, dan Kepala BKPSDM Kota Ambon Steven Dominggus. (*)

Sumber: