Bupati Kepulauan Aru Hadiri Persidangan ke-28 Jemaat GPM Matbali
--
MALUKU.DISWAY.ID - Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, menghadiri pembukaan Persidangan ke-28 Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Marbali, Minggu (8/3/2026).
Persidangan jemaat bertemakan “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM” itu merupakan agenda tahunan gereja, sekaligus forum tertinggi di tingkat jemaat.
Dalam forum tersebut, jemaat mengevaluasi program pelayanan dan anggaran, sekaligus menetapkan Rencana Program dan Pelayanan Jemaat (RPPJ) untuk periode mendatang.
Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, menyebutkan, subtema persidangan jemaat, yakni “Layani Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah” diharapkan dapat mendorong arah pelayanan gereja yang konsisten, tekun, dan berlandaskan kasih.
Menurutnya, forum persidangan jemaat harus dimanfaatkan secara maksimal untuk merumuskan arah pelayanan gereja yang lebih kontekstual dan transformatif, sekaligus memperkuat sinergi antara gereja dan pemerintah daerah.
“Forum ini hendaklah merumuskan rencana pelayanan melalui dokumen RPPJ 2026–2030 yang menekankan pada pembinaan berbasis keluarga, serta kualitas kemanusiaan yang menjadi isu penting bangsa dan negara saat ini,” ujar Kaidel.
Dia menambahkan, berbagai dinamika global seperti konflik di sejumlah negara berpotensi memicu krisis kemanusiaan dan ancaman krisis ekonomi global. Dalam situasi tersebut, gereja dinilai memiliki peran penting untuk hadir sebagai pembawa harapan bagi masyarakat.
“Kita sebagai gereja dipanggil tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga menjalankan peran profetis dan kasih di tengah dunia yang penuh kekerasan dan ketidakpastian,” imbuhnya.
Bupati juga berharap, spiritualitas berbasis keluarga yang diusung dalam persidangan jemaat dapat memberikan perspektif baru bagi para peserta sidang dalam merancang arah pelayanan gereja ke depan.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi dasar untuk mendesain pelayanan berbasis persekutuan keluarga Allah yang dijalankan melalui tiga pilar utama gereja, yakni umat, pelayan, dan lembaga, terutama dalam konteks GPM sebagai gereja yang melayani wilayah kepulauan.
“Gereja dipanggil menjadi agen perdamaian yang proaktif, menegaskan bahwa damai adalah ajaran Tuhan serta menolak segala bentuk kekerasan,” pungkasnya.
Ia juga mendorong agar pelayanan gereja dijalankan secara holistik melalui semangat koinonia, marturia, diakonia, dan ekonomia.
Menurutnya, gereja harus mampu hadir sebagai mediator dan pemberi solusi atas berbagai persoalan umat dan masyarakat.
Sumber:
