Pematangan Lahan Tuntas, Sekolah Rakyat Siap Dibangun di Aru

Pematangan Lahan Tuntas, Sekolah Rakyat Siap Dibangun di Aru

Rapat Koordinasi Kemetrian Sosial dengan Pemkab Aru di Jakarta. Rapat ini membahas kesiapan pembangunan SR di Aru--

DISWAYMALUKU.ID –  Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru siap menindaklanjuti program pendidikan gratis berasrama atau Sekolah Rakyat (SR) setara SD-SMA dari Pemerintah Pusat, yang bakal dibangun di Kelurahan Siwalima, Kecamatan Pulau-pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. 

Proses Pematangan lahan telah selesai dilakukan. Dimana lahan pembangunan Sekolah Rakyat seluas 7,62 hektar itu telah disiapkan sejak 2025 lalu. 

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kepulauan Aru, T. Kolyaan, kepada media ini, Jumat (23/1/2026) mengatakan, Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah pusat, yang diperuntukan bagi keluarga miskin ekstrem. Yakni semua biaya pendidikan akan digratiskan oleh pemerintah.

“Anggaran yang bersumber dari APBN ini, direncanakan pebangunannya dimulai tahun 2026 dan ditangani oleh Waskita Karya. Dari 162 Sekolah Rakyat yang tersebar di Indonesia, salah satunya adalah Kabupaten Kepulauan Aru,” terang Kolyanan.  

Dijelaskan, Pemkab Kepulauan Aru lewat Dinas Sosial telah selesai melakukan tahapan-tahapan yang dibutuhkan. Mulai dari legalitas lahan yang dipastikan tidak bermasalah, hingga persiapan jalan masuk menuju lokasi sekolah. 

Sementara untuk status tanah, sambungnya, sudah bersertifikat atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dan telah dihibahkan kepada Kementrian Sosial (Kemensos) RI. 

“Jadi dalam teknis pembangunan gedung Pemkab Aru tidak dilibatkan, semua tahapan pembangunan ditangani lansung kemetrisn Sosial RI,” sebutnya.

Kolyanan juga menegaskan, nantinya semua siswa-siswi mulai dari tingkatan SD hingga SMA, seluruhnya akan diasramakan pada sekolah tersebut. “Bahkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan siswa dan operasional sekolah, menjadi tanggung jawab pemerintah. Dan untuk proses pendaftaran harus diseleksi dengan benar, sehingga yang masuk sekolah benar-benar adalah keluarga yang tidak mampu,” pungkas Kolyanan.

Sumber: