Inflasi Ambon 2025 Lampaui Target Nasional, Pemkot Perkuat Langkah Pengendalian Harga
-Dok Pemkot Ambon-
DISWAY.ID - Pemerintah Kota Ambon menegaskan komitmennya untuk memperketat pengendalian inflasi menyusul hasil evaluasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang menunjukkan tingkat inflasi Kota Ambon sepanjang 2025 berada di atas sasaran nasional. Temuan tersebut mengemuka dalam Rapat Evaluasi TPID Kota Ambon yang digelar di Balai Kota Ambon, Kamis 8 Januari 2026.
Dalam forum tersebut, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ambon, Pauline Gaspersz, memaparkan bahwa inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,85 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun 2024. Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (year to date/y to d) sekaligus year on year mencapai 4,23 persen, melampaui target inflasi nasional 2025 yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ±1 atau batas atas 3,5 persen.
“Inflasi y to d Kota Ambon tahun 2025 sebesar 4,23 persen sudah melampaui ambang batas yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024,” ujar Gaspersz.
Ia menjelaskan, tekanan inflasi terutama bersumber dari tiga kelompok pengeluaran utama, yakni makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi 2,24 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,76 persen, serta sektor transportasi sebesar 0,77 persen. Meski terjadi kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit dan ikan, dampaknya dinilai relatif kecil karena tertutupi oleh andil emas perhiasan sebesar 0,79 persen dan angkutan udara sebesar 0,42 persen.
Menurut Gaspersz, pengendalian inflasi sangat bergantung pada kepastian ketersediaan stok. Ia menilai Pemkot Ambon telah memiliki instrumen strategis berupa neraca bahan makanan yang dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan untuk memantau kebutuhan dan suplai komoditas penting.
“Pemerintah Kota Ambon punya data yang bisa menjadi alat bantu lewat Dinas Ketahanan Pangan, yaitu adalah neraca bahan makanan. Informasinya bisa menjadi driver awal untuk kita pantau ketersediaan komoditas penting seperti ikan, cabai, bawang merah, daging ayam ras, dan beras, dengan tetap memperhatikan pola konsumsi masyarakat,” jelas Gaspersz.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, mengakui bahwa lonjakan inflasi di penghujung 2025 dipengaruhi signifikan oleh kenaikan tarif angkutan udara yang tidak diikuti dengan kebijakan subsidi dari pemerintah pusat, sehingga berdampak pada harga komoditas lain.
“Inflasi year on year Kota Ambon mencapai 4,23 persen. Ini menandakan laju inflasi cukup tinggi di akhir 2025, salah satunya dipicu oleh lonjakan transportasi udara,” ungkapnya.
Sebagai respons, Pemkot Ambon memastikan akan melanjutkan sekaligus memperkuat berbagai bentuk intervensi harga. Salah satu langkah yang direncanakan adalah pembangunan kios atau pasar pengendali guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang di pasaran.
“Kios pengendali ini penting untuk memantau harga sekaligus menyediakan stok komoditas tertentu agar masyarakat bisa memperoleh harga yang terjangkau,” tegas Toisutta.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana mengintensifkan kembali kerja sama antarwilayah dengan kabupaten penyangga, seperti Kabupaten Buru dan Maluku Tengah, untuk menjamin kelancaran distribusi komoditas.
“Ke depan, komunikasi dengan daerah penghasil akan diperkuat agar penyangga stok dapat dimaksimalkan dan membantu pengendalian inflasi di Kota Ambon,” tutupnya.
Pemkot Ambon menegaskan seluruh kebijakan tersebut akan dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan demi menjaga stabilitas harga serta melindungi daya beli masyarakat.
Sumber:
