BMKG Catat 2.788 Gempa Guncang Maluku Sepanjang 2025, Dua Di Antaranya Merusak

BMKG Catat 2.788 Gempa Guncang Maluku Sepanjang 2025, Dua Di Antaranya Merusak

--

DISWAY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Ambon mencatat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi di wilayah Maluku sepanjang tahun 2025. Total sebanyak 2.788 kejadian gempa bumi terpantau mengguncang Provinsi Maluku dan sekitarnya selama periode tersebut.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Ambon, Djati Cipto Kuncoro, menjelaskan bahwa ribuan kejadian gempa itu dimonitor secara intensif oleh jajarannya. Dari jumlah tersebut, puluhan gempa dilaporkan sempat dirasakan langsung oleh masyarakat, bahkan sebagian menimbulkan dampak kerusakan.

"Sepanjang tahun 2025 Stasiun Geofisika Ambon memonitor sebanyak 2.788 kejadian gempa bumi di wilayah Provinsi Maluku dan sekitarnya dengan 80 kejadian di antaranya dirasakan masyarakat, dan dua kejadian bersifat merusak di wilayah Amalatu (M 4.9)," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Ambon, Djati Cipto Kuncoro, di Ambon, Selasa.

Menurut Djati, aktivitas seismik di Maluku selama 2025 didominasi oleh gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. Dari sisi kekuatan, mayoritas gempa berada pada rentang magnitudo 3 hingga 5, sementara gempa terbesar tercatat berkekuatan Magnitudo 6,9 yang terjadi pada 14 Juli 2025.

Jika ditinjau berdasarkan klasifikasi magnitudo, BMKG mencatat sebanyak 1.839 gempa berkekuatan di bawah Magnitudo 5,0. Selain itu, terdapat 884 kejadian gempa dengan magnitudo di bawah 3,0 yang umumnya tidak dirasakan masyarakat.

Sementara itu, gempa bumi dengan kekuatan di atas Magnitudo 5,0 tercatat sebanyak 65 kejadian sepanjang tahun. Magnitudo terbesar, yakni 6,9, kembali ditegaskan terjadi pada 14 Juli 2025 dan menjadi gempa paling signifikan di wilayah Maluku selama tahun tersebut.

BMKG juga mencatat adanya dua kejadian gempa bumi yang menimbulkan kerusakan pada 2025. Kedua gempa itu berpusat di wilayah Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Peristiwa pertama terjadi pada 22 Juni 2025, kemudian disusul kejadian kedua pada 4 Juli 2025.

Kedua gempa tersebut memiliki kekuatan Magnitudo 4,9 dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di area terdampak. Meski skalanya tidak besar, dampak yang ditimbulkan cukup menjadi perhatian bagi upaya mitigasi bencana di wilayah rawan gempa seperti Maluku.

Djati mengungkapkan, secara umum terjadi peningkatan jumlah kejadian gempa bumi pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Puncak frekuensi kegempaan tercatat terjadi pada Maret 2025 dengan 354 kejadian, disusul September sebanyak 275 kejadian, serta Desember 2025 dengan 270 kejadian gempa.

Ia menegaskan bahwa data tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat serta penguatan edukasi kebencanaan secara berkelanjutan, khususnya di daerah rawan gempa dan tsunami.

"Dengan semangat menyambut tahun 2026, mari bersama melangkah lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih siap. Tidak hanya meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga mempererat kerja sama untuk membangun masa depan Maluku yang lebih aman.

Semoga semakin banyak terbentuk desa-desa di Kota Ambon dan Provinsi Maluku yang akan menjadi 'Desa Ready Tsunami Comunity' seperti Desa Galala dan Hative Kecil yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO,” ujarnya. *

Sumber: